Skip to main content
Rambut Gembel Dieng

Dieng Culture Festival 2019 Sukses Digelar

Dieng Culture Festival 2019 sukses digelar pada tanggal 2-4 Agustus 2019. Gelaran DCF (Dieng Culture Festival) sudah menginjak gelaran yang ke 10, satu dekade gelaran DCF ini berlangsung tentunya tidaklah mudah. Banyak pembelajaran di tiap tahunnya yang menjadikan panitia selalu berusaha memperbaiki kekurangan di tahun-tahun sebelumnya.

Dieng Culture Festival 2019

Dieng Culture Festival 2019

Aksi Dieng Bersih

Aksi Dieng Bersih adalah sebuah rangkaian di DCF yang tentunya bertujuan untuk mengedukasi semua saja baik masyarakat, panitia, maupun pengunjung Dieng agar selalu menjaga lingkungan Dieng tetap bersih, terutama dari sampah-sampah plastik. Aksi Dieng Bersih ini dibantu lebih dari 300 relawan dari berbagai daerah. Harapannya meningkatnya kesadaran pengunjung Dieng untuk bijak dengan sampah yang dibawanya, minimal dengan membuang sampah pada tempatnya adalah langkah kecil untuk menjaga Dieng dan Bumi ini tetap lestari.

Dieng Bersih di Dieng Culture Festival 2019

Beri Kejutan Penonton Jazz Atas Awan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, panitia selalu merahasiakan line-up performer Jazz Atas Awan, selalu ada Mistery Guest yang membuat pengunjung kaget, membuat beberapa orang yang tak datang baper (menyesal) karena tak hadir di gelaran Jazz Atas Awan. Tahun lalu datangkan Gugun Blues Shelter, The Rain, tahun ini datangkan Gugun Blues Shelter kembali, KUAETNIKA, PUSAKATA, juga ditambah penyanyi cantik yang sudah tak asing lagi yaitu Isyana Sarasvati. Untuk gelaran musik di panggung utama, spesifikasi sound system tahun ini lebih baik kualitasnya, menjadikan para performer tampil lebih maksimal.

Jazz Atas Awan Dieng Culture Festival 2019
Gugun Blues Shelter di Panggung Jazz Atas Awan | sumber gambar: twitter @festivaldieng

Permintaan Anak Rambut Gembel

Setiap tahun selalu saja ada permintaan anak rambut gembel yang unik, begitu juga tahun 2019 ini. Salah satu yang paling unik di tahun ini, permintaan si anak gembel adalah minta kentut Ibunya ditempatkan di kantong plastik. Permintaan ini cukup membuat para pengunjung terkejut, karena sangatlah unik. Begitulah gelaran Dieng Culture Festival 2019, menjadi momen yang begitu spesial dan sulit dilupakan karena adanya hal-hal menarik maupun unik.

Rambut Gembel Dieng
salah satu anak yang mengikuti prosesi pencukuran rambut gembel | sumber gambar: @jateng_twit

Penerbangan Lampion

Penerbangan Lampion di gelaran Dieng Culture Festival selalu menjadi pro kontra, selalu ada kritik yang dilontarkan warganet baik di twitter, instagram maupun sosial media lainnya. Penerbangan lampion tahun ini sepertinya akan menjadi konten terakhir, tahun depan sepertinya tidak akan diadakan lagi. Tahun 2019 ini panitia melarang lampion dari luar, artinya panitia sepakat untuk membatasi jumlah lampion yang diterbangkan tahun ini, tentunya untuk mewujudkan Dieng Bersih yang lebih baik.

lampion terakhir di Dieng Culture Festival
tweet @festivaldienng
penerbangan lampion dieng culture festival
penerbangan lampion | sumber gambar: instagram @unxpsdofficial

Java Coffee Festival

Salah satu yang baru di gelaran Dieng Culture Festival 2019 ini adalah diselenggarakannya acara berjudul “Java Coffee Festival” yang di dalamnya ada stan kopi, fun battle v-60, diskusi tentang dunia perkopian oleh beberapa narasumber. Tiga narasumber yang didatangkan di Java Coffee Festival yaitu Eko Purnomowidi co-founder KLASIK BEANS, Muhammad Aga Indonesia Barista Champ 2018 S.M.I.T.H, kemudian Budi Kurniawan film maker Aroma of Heaven, Legacy of Java.

Kegiatan Masyarakat Dieng

Kegiatan Masyarakat Dieng Yang Unik dan Menarik

FESTIVAL DIENG – Masyarakat dieng yang notabenya adalah masyarakat pegunungan tentunya berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, hal ini terlihat dari kebisaan yang ada, misalnya masyarakat pada umumnya  jika bertamu masuk ke ruang tamu lain halnya dengan masyarakat dieng yang jika bertamu mereka akan menuju ke dapur atau “pawon” sebutan bagi orang DIENG. Di dalam pawon inilah orang dieng melakukan interaksi baik dengan orang yang bertamu “dayoh” maupun di dalam keluarga sendiri, banyak hal yang dilakukan di ruang dapur orang dieng dari sekedar makan, bercengkrama dengan keluarga hingga sebagai tempat menjamu tamu, Karena daerah dieng yang dingin hampir semua aktivitas rumahan orang dieng selalu di lakukan beriringan di pawon atau depan tungku perapian. Beberapa hal tersebut adalah kegiatan masyarakat Dieng yang cukup menarik untuk dijadikan bahan oleh-oleh cerita setelah berkunjung ke Dieng.

Kegiatan Masyarakat Dieng
Kegiatan Masyarakat Dieng
Kegiatan Masyarakat Dieng
masyarakat dieng sedang memanen kentang

Mayoritas mata pencaharian  orang dieng bertani sayur dan komoditi andalanya kentang  yang hampir 70% sisanya bertani cabe kobis hingga wortel, aktivitas masyarakat pada pagi hingga sore hari di ladang untuk melakukan proses bertani dari menanam hingga memanen, selain bertani dieng kaya akan obyek wisata dengan daya tarik yang luar biasa sehingga pada akhir akhir tahun ini banyak masyarakat dieng yang mulai melakukan usaha dalam bidang pariwisata sebagai tambahan penghasilan, seperti jasa homstay, pemandu wisata, transportasi hingga warung makan dan oleh-oleh. Pada malam hari anak anak dieng melakukan aktivitas mengaji maupun belajar kelompok , dan bagi orang dewasa biasanya melakukan sosialisasi ke keluarga maupun teman yang oleh masyarakat dieng terkenal dengan sebutan “ngendong”. Selain acara ngendong ada acara acara lain seperti yasinan yang dilakukan pada malam jumat berada di rumah setiap warna dengan system bergiliran dari satu rumah ke rumah lainya, yasinan ini dimaksud untuk mendoakan para arwah orang yang telah meninggal, kemudian ada juga acara 7 bulan atau mitoni tradisi ini dilakukan untuk mendoakan bayi yang sudah berumur 7 bulan, banyaknya kegiatan menggambarkan kerukunan yang terjadi di Dieng .

Masih banyak cerita tentang kegiatan masyarakat Dieng yang perlu diulik dan dijadikan daya tarik wisatawan yang hendak ke berwisata ke Dieng. Di blog ini, kami baru menuliskan sedikit artikel tentang kebiasaan / kegiatan masyarakat Dieng yang bisa dibilang unik daripada kebiasaan orang-orang Indonesia pada umumnya.

dieng culture festival

Dieng Culture Festival Sebuah Komodifikasi Budaya Untuk Pariwisata

Akhir – akhir ini muncul kekhawatiran akan nasib budaya tradisional sebagai akibat dari pengembangan pariwisata sebagai suatu Industri. Pengaruh – pengaruh yang merugikan itu antara lain terjadinya pengikisan dan penodaan terhadap budaya tradisional yang berbentuk seni tradisional, kearifan lokal ataupun kegiatan keagamaan.
Yang lebih berbahaya jika dilihat dari kebudayaan sekarang ini adalah terjadinya komersialisasi seni budaya dalam kepariwisataan. Tidak bisa dipungkiri bahwa pariwisata dapat menaikan taraf perekonomian rakyat, namun disisi lain komersialisasi seni budaya ini juga akan berdampak negatif pada masyarakat dan budaya itu sendiri.

dieng culture festival
Pemotongan Rambut Gimbal

Dieng Culture Festival

Dieng Culture Festival (DCF) adalah sebuah event yang acara puncaknya adalah ruwatan pemotongan rambut anak gimbal. DCF merupakan gagasan dari Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa yang menggabungkan konsep budaya dengan wahana wisata alam, dengan misi pemberdayaan ekonomi masyarakat Dieng. Diselenggarakan pertama kali pada tahun 2010 atas kerjasama dari Equator Sinergi Indonesia, Pokdarwis Dieng Pandawa dan Dieng Ecotourism. Sebelum DCF sudah ada acara serupa yakni Pekan Budaya Dieng yang diadakan oleh masyarakat dan pemuda Dieng Kulon. Ketika memasuki tahun ke-3 Pekan Budaya, masyarakat berinisiatif membuat kelompok sadar wisata dan merubah nama event menjadi Dieng Culture Festival.
Pokdarwis Dieng Pandawa adalah komunitas atau kelompok sadar wisata yang mengelola desa wisata Dieng Kulon yang beranggotakan semua pelaku wisata termasuk diantaranya dari Homestay, Kerajinan, Tour Guide, Agrowisata, Seni dan Budaya yang berada di wilayah Dieng. Tujuan dari Pokdarwis Dieng Pandawa dalam mengembangkan pariwisata Dieng adalah untuk tercapainya masyarakat yang sadar wisata dan masyarakat yang mandiri. Selain DCF, Pokdarwis Dieng Pandawa juga aktif dalam kegiatan pengenalan kepada masyarakat tentang pentingnya pariwisata dalam berbagai sudut pandang, salah satunya dalam segi ekonomi.
Seperti yang telah disebutkan diawal, bahwa DCF memiliki acara ruwatan pemotongan rambut gimbal sebagai puncak acara. Ruwatan adalah upacara penyucian yang sudah menjadi adat di Jawa. Upacara ruwatan ini dilakukan untuk membuang sial, mala petaka dan atau mara bahaya.
Sementara itu, anak berambut gimbal/gembel merupakan fenomena unik. Fenomena anak gimbal ini terjadi di sejumlah desa di Dataran Tinggi Dieng, anak – anak asli Dieng tersebut berusia 40 hari sampai 6 tahun yang memiliki rambut gimbal secara alami dan tidak diduga dan bukan diciptakan.
Rambut gimbal anak Dieng dipercaya sebagai titipan penguasa alam ghaib dan baru bisa dipotong setelah ada permintaan dari anak bersangkutan. Permintaan tersebut harus dipenuhi, tidak kurang dan tidak dilebihkan. Sebelum acara pemotongan rambut, akan dilakukan ritual doa dibeberapa tempat, diantaranya adalah Candi Dwarawati, Komplek Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatotkaca, Telaga Balaikambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, Gua di Telaga Warna, Kali Pepek dan tempat pemakaman Dieng. Keesokan harinya baru dilakukan kirab menuju tempat pencukuran. Selama berkeliling desa anak – anak rambut gimbal ini dikawal para sesepuh, tokoh masyarakat, kelompok paguyuban seni tradisional, serta masyarakat.
Selain pemotongan rambut anak gimbal, DCF memiliki beragam acara pendukung, diantaranya adalah Jazz Atas Awan yang sekarang juga menjadi agenda event nasional, ada juga Festival Film Dieng, Festival Lampion, Minum Purwaceng Bersama, Camping DCF, Sendra Tari Rambut Gimbal, Jalan Sehat dan Reboisasi, serta Expo, dll.
Selama 4 periode DCF telah berhasil menyedot perhatian wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Karena Dieng Culture Festival selalu menyuguhkan perpaduan seni tradisi, kekayaan indie dan kontemporer menjadi kemasan yang sangat menarik, dan selain itu ada selalu yang baru pada setiap tahunnya.
Sesuai dengan Analisis potensi Kawasan Wisata Dieng oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dengan menggunakan pendekatan 4A, yang salah satunya adalah “Atraksi” atau daya tarik wisata yang merupakan faktor penarik utama dalam kegiatan pariwisata, dimana Atraksi tersebut dapat dibagi menjadi tiga yaitu : (1) Atraksi Alam, (2) Atraksi Budaya, dan (3) Atraksi Buatan.
Kawasan Wisata Dieng memiliki kekayaan budaya yang unik dan dari segi jumlahnya cukup banyak sehingga dapat digunakan untuk menjadi suatu daya tarik pariwisata. Namun hal ini masih kurang dimanfaatkan secara baik, karena masih kurangnya informasi – informasi / publikasi mengenai waktu diadakannya acara – acara budaya tersebut sehingga turis tidak bisa ikut menikmati acara – acara budaya tersebut. Selain itu, tidak adanya informasi yang cukup akurat mengenai cerita dari adat istiadat dan peninggalan bersejarah tersebut mengakibatkan tidak adanya story making (pembuatan cerita – cerita, mitos, atau sejarah) dan story telling (proses penceritaan cerita – cerita, mitos atau sejarah) yang dapat dijadikan sebagai tambahan aktivitas bagi wisatawan ketika mendengarkan cerita dan makna dari adat istiadat dan peninggalan bersejarah tersebut.1 Disini menguatkan adanya DCF dijadikan alat untuk mengkomunikasikan ke masyarakat luas khasanah budaya dan adat istiadat yang dimiliki Dieng, sehingga manfaat pariwisata yang salah satunya adalah menambah wawasan / pengetahuan ini juga sampai ke wisatawan dengan baik.
Festival Budaya di Dataran Tinggi Dieng diharapkan dapat menjadi magnet baru wisata di Jawa Tengah pada umumnya dan Dieng pada khususnya, dengan mengenalkan potensi wisata dan juga seni budaya yang dimiliki kepada semua lapisan masyarakat baik di dalam negeri maupun mancanegara. Selain itu, DCF diandalkan sebagai sektor baru untuk peningkatan taraf ekonomi rakyat.

Komodifikasi Budaya Untuk Pariwisata

Aktivitas pembangunan ekonomi telah memodifikasi sumber daya dan mengubah struktur dan pola konsumsinya, termasuk didalamnya oleh sektor pariwisata (Pitana dan Diarta, 2009). Tidak dapat dipungkiri bahwa berjalanannya industri pariwisata sangat bergantung pada sumber daya yang ada. Dalam konteks pariwisata, sumber daya diartikan sebagai segala sesuatu yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam mendukung pariwisata. Sumber daya yang terkait dengan pengembangan pariwisata termasuk berupa Sumber Daya Alam, Sumber Daya Budaya, Sumber Daya Minat Khusus, serta Sumber Daya Manusia.
Pariwisata budaya merupakan salah satu jenis kepariwisataan yang dikembangkan bertumpu pada kebudayaan. Kebudayaan yang dimaksud adalah kebudayaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila.2
Pariwisata budaya sebagai suatu kebijaksanaan pengembangan kepariwisataan di Indonesia memiliki unsur – unsur budaya yang penting dalam usahanya menarik wisatawan berkunjung ke Indonesia, diantaranya adalah :

  1. Untuk mempromosikan kepariwisataan secara umum baik dalam maupun luar negeri
  2. Produk seni budaya akan menyiapkan lapangan kerja dan peningkatan penghasilan masyarakat
  3. Penampilan seni dan budaya disamping menarik perhatian wisatawan juga meningkatkan pemberdayaan seni dan budaya
  4. Penampilan seni budaya dapat meningkatkan pemeliharaan dan manajemen museum, galeri dan monumen – monumen seni budaya lainnya.
    Dana yang dihasilkan dengan penjualan produk seni dan budaya bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat
  5. Sentuhan dengan seni budaya lain meningkatkan harkat, kehormatan dan pemahaman tentang arti kemanusiaan.
  6. Pembangunan kepariwisataan Indonesia diarahkan untuk (1) pelestarian seni dan budaya, (2) penanaman rasa cinta tanah air dan jati diring bangsa, (3) peningkatan devisa, (4) penciptaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, dan (5) memperkenalkan adat istiadat dan budaya Indonesia dalam rangka menjalin hubungan antarbangsa

“Kebudayaan” mengandung pengertian akan segala hasil olah pikir dan olah krida manusia, yang secara normatif dimiliki bersama oleh sebuah sosial yang disebut “masyarakat” (Yoeti, 2006) Kebudayaan memberikan daya tarik yang tak terbatas dalam setiap aspek kehidupan, tetapi ketika budaya bertemu dengan pariwisata yang menjadikan kebudayaan itu sebagai produk dari pariwisata maka akan terjadi komodifikasi, yaitu berubahnya suatu hal biasa menjadi sebuah komoditas. Komodifikasi akan memberikan dampak baik positif ataupun negatif.

Agar suatu kebudayaan dapat lestari, yaitu selalu ada eksistensinya, maka upaya – upaya yang perlu dijamin kelangsungannya meliputi: (1) Perlindungan, meliputi upaya – upaya untuk menjaga agar hasil – hasil budaya tidak hilang atau rusak; (2) Pengembangan, meliputi pengolahan yang menghasilkan peningkatan mutu dan atau perluasan khazanah; (3) Pemanfaatan, meliputi upaya – upaya untuk menggunakan hasil – hasil budaya untuk berbagai keperluan, seperti untuk menekankan citra identitas suatu bangsa, untuk pendidikan kesadaran budaya, untuk dijadikan muatan industri budaya, dan untuk dijadikan daya tarik wisata.

Dampak Positif Dieng Culture Festival

  • Naiknya Taraf Perekonomian

Dieng Culture Festival terbukti membantu kenaikan taraf perekonomian rakyat melalui pariwisata. DCF tidak hanya bertujuan mengenalkan potensi wisata dan seni budaya kepada masyarakat luas sebagai sebuah destinasi wisata, namun juga untuk memperbaiki perekonomian masyarakat yang pada waktu itu mulai melemah karena eksploitasi tanah besar – besaran oleh pertanian. Ternyata pariwisata tampil sebagai penopang selain sektor Pertanian.

  • Pelestarian Budaya

Dieng Culture Festival merupakan bentuk upaya pelestarian budaya ruwatan. Ruwatan banyak dilakukan di Jawa Tengah
dan Yogyakarta, namun ruwatan anak rambut gimbal yang Dieng miliki ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh daerah lain. DCF memperkuat alasan untuk terus dilaksanakannya ritual ruwatan ini di Dieng.

  • Promosi Pariwisata Daerah

Pemerintah daerah Dieng secara kreatif telah memberikan format Festival pada upacara ruwatan anak gimbal, promosi besar – besaran pun dilakukan demi menunjang kesuksesan acara ini. Dengan keunikan yang dimiliki oleh upacara pemotongan rambut gimbal ini, serta acara – acara pendukung yang dimiliki DCF mampu menarik perhatian masyarakat luas, baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Dieng dan menyaksikan DCF. Jadi komodifikasi yang terjadi juga ikut membesarkan nama Dieng di kancah pariwisata nasional maupun internasional.

Konklusi

Kebudayaan adalah hal yang memberikan daya tarik tak terbatas dalam setiap aspek kehidupan. Tetapi ketika budaya bertemu dengan pariwisata yang menjadikan kebudayaan itu sebagai produk, maka tidak bisa dipungkiri bahwa akan terjadi komodifikasi, yang merubah budaya menjadi sebuah komoditas. Di satu sisi Dieng Culture Festival bisa mendongkrak nama dan perekonomian Dieng, tetapi disisi lain dilihat dari sudut pandang tradisi dan kebudayaan seperti kehilangan makna dan tradisi.
Kebudayaan dan pariwisata memang bisa menghasilkan keuntungan, tetapi harus tetap berpegang teguh pada makna dan kesakralan. Tradisi ini berlanjut karena warga dengan kearifan lokalnya yang percaya akan makna tradisi itu. Kesejahteraan masyarakat dan kearifan lokalnya sudah sebaiknya menjadi pertimbangan utama semua pihak ketika akan menetapkan kebijakan pariwisata. Sebab kebudayaan itu ada karena masyarakat, berawal dari masyarakat, dan didayagunakan untuk masyarakat.

Kesenian Tari Lengger di Dieng

Kesenian Tari Lengger dari Wonosobo merupakan akulturasi dari kebudayaan Hindu dan Budha dengan Islam yang dihasilkan oleh Sunan Kalijaga, dan masih dilestarikan sampai saat ini. Namun, pada saat ini masyarakat luas dan masyarakat wonosobo sendiri kurang memahami arti dan fungsi Lengger yang sebenarnya.

Sejarah Tari Lengger Tari Lengger menurut ceritanya sudah ada sejak zaman pemerintahan Prabu Brawijaya yang kemudian diadopsi oleh agama Islam untuk menyebarkan agama Islam diseluruh Nusantara. Tari ini berawal ketika Raja Brawijaya yang kehilangan putrinya, Dewi Sekartaji, mengadakan sayembara untuk memberikan penghargaan bagi siapa pun yang bisa menemukan sang putri. Bila pria yang menemukan akan dijadikan suami sang putri dan jika wanita maka akan dijadikan saudara. Sayembara yang dikuti oleh banyak ksatria ini akhirnya tinggal menyisakan dua peserta yaitu Raden Panji Asmoro Bangun yang menyamar dengan nama Joko Kembang Kuning dari Kerajaan Jenggala. Satu lagi, Prabu Klono dari Kerajaan Sebrang, merupakan orang yang menyebabkan sang putri kabur karena sang raja menjodohkannya.

Tari Lengger ditarikan oleh dua orang, yang pria memakai topeng dan yang wanita memakai pakaian tradisionalny kebesaran layaknya putri Jawa pada masa lampau. Penari menarikan ini sekitar 10 menit dengan diiringi dengan alunan musik gambang, saron, kendang, gong, dan sebagainya.

Bahkan beberapa seniman tari mencoba menciptakan tarian baru yang mengadopsi dari Tari Topeng Lengger. Salah satunya Kenyo Lengger, tarian yang diperkenalkan oleh Sanggar Ngesti Laras. Menurut Pendirinya Mulyani, Kenyo Lengger yang ditarikan oleh 5 orang wanita yang memakai kacamata hitam. “Tarian ini mengandung filosofi bahwa kita  bahwa manusia jangan terlena dengan silaunya kenikmatan dunia itu memakai kacamata hitam.” Jelas Mulyani.

tari lengger dieng
sumber foto : sanskertaonline.blogspot.com

Menurutnya lagi, yang membuat manusia terlena pada dunia adalah tahta, wanita, dan harta. Saat ini Tari Lengger biasa dipentaskan setiap acara hajatan, hari besar, syukuran, dan pesta rakyat lainnya. Bahkan untuk lebih diminati masyarakat, Tari Lengger juga bisa menyajikan atraksi yang berbau magis seperti kuda lumping tergantung keinginan pemesan. Dalam pencarian tersebut, Joko Kembang Kuning yang disertai pengawalnya menyamar sebagai penari keliling yang berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain. Lakon penarinya adalah seorang pria yang memakai topeng dan berpakaian wanita dengan diiringi alat musik seadanya. Ternyata dalam setiap pementasannya tari ini mendapat sambutan yang meriah. Sehingga dinamai Lengger, yang berasal dari kata ledek (penari) dan ger atau geger (ramai atau gempar). Hingga di suatu desa, tari Lengger ini berhasil menarik perhatian Putri Dewi Sekartaji dari persembunyiannya.

Sebelum pentas, tari Lengger diawali dengan sajian karawitan gending Patalon sebagai pertanda akan dimulai. Setelah itu dilanjutkan tembang Babadono, pada saat lagu Tolak Balak untuk menolak semua gangguan, seorang pawing tampil dengan membawa sesajen (kembang kanthil, mawar merah putih, sambal terasi, keluban tales, singkong bakar, terong lampu, gelas kembang, timun, bengkoang dan kemenyan). Setelah sesaji dianggap cukup seorang pawang tersebut membaca mantra sambil membakar kemenyan. Ini semua dimaksudkan untuk meminta kepada roh Endang (roh wanita pelindung mereka) agar mau turut merasuki para pemain dan melindungi semua pemain selama pentas seni Lengger berlangsung, agar terhindar dari gangguan dan marabahaya.

Dalam setiap pentasnya, setelah penari menarikan tariannya beberapa saat, seringkali muncul penari pria. Penari pria tersebut muncul sebagai pasangan dari penari perempuan, yang seringkali menandakan klimaks pentas Lengger tersebut. Penari pria biasanya sampai kesurupan, kemasukan roh-roh jahat, dan bahkan sampai bisa makan beling atau kaca. Hal semacam inilah yang biasanya menjadi daya tarik para penonton untuk menyaksikan pentas Lengger.

anak gimbal dieng

Anak Gimbal, Keunikan Mistis dari Tanah Dieng

Dieng merupakan tempat yang mempunyai banyak potensi alam yang bisa dijadikan tempat wisata. Contoh-contoh tempat wisata yang ada di Dieng antara lain Telaga Warna, Telaga Cembong, Kawah Sikadang, Candi Arjuna, Candi Dwarawati, Dieng Plateau (tempat pemutaran film tentang Dieng), dan masih banyak lagi.

Di balik kekayaan alamnya yang sangat indah, jika Anda berkunjung ke Dieng pasti Anda akan menemukan beberapa anak yang berambut bajang (rambut gimbal). Di daerah Dieng, mempunyai anak atau keturunan yang berambut gimbal sudah merupakan hal yang biasa. Tetapi bagi orang awam yang baru berkunjung atau melihat secara langsung anak-anak ini pasti akan bertanya-tanya tentang asal-usul dari kejadian ini. Sebenarnya, tidak ada yang mengetahui secara jelas mengapa bisa terjadi hal seperti ini.
Ada 2 versi mengenai asal-usul anak gimbal ini.

Pertama adalah masyarakat yakin rambut anak gimbal adalah keturunan dari nenek moyang yang menemukan daerah Dieng, yaitu Kyai Kolodete. Konon katanya, Kyai Kolodete tidak akan pernah mandi dan mencuci rambutnya sebelum daerah yang ditemukannya itu menjadi makmur. Hingga saat ini kepercayaan itu masih dianggap benar oleh masyarakat sekitar. Masyarakat menilai jika mereka memiliki keturunan yang berambut gimbal maka hidupnya akan makmur.

anak gimbal dieng
Anak Gimbal Dieng

Versi keduanya, anak-anak di daerah Dieng memiliki rambut gimbal karena adanya gas belerang atau adanya sumber belerang di daerah Dieng. Maka pada saat ibu mereka mengandung, ibu mereka terlalu sering menghirup gas belerang, maka gen yang dihasilkan tidak sempurna dan anak yang lahir mempunyai rambut yang gimbal. Tetapi pendapat ini masih belum bisa dibuktikan kebenarannya.

Sesepuh desa di Dieng mengatakan, anak yang berambut gimbal adalah anak yang suci. Semua permintaan yang diminta oleh anak gimbal harus dituruti secara tepat, tidak boleh kurang maupun lebih. Masyarakat tidak berani melanggar pantangan-pantangan menyangkut mitos anak gimbal ini, seperti memotong rambut gimbal tersebut sebelum si anak meminta untuk dipotong. Apabila dilanggar maka akan mengakibatkan si anak sakit dan rambut pun kembali gimbal.

Adapun ritual yang diadakan untuk memotong rambut gimbal itu, dikenal masyarakat dengan nama Dieng Culture Festival. Biasanya acara ini diadakan pada bulan Sura dalam kalender Jawa dan diselenggarakan di kompleks Candi Arjuna. Pada ritual ini, mitosnya orangtua harus menuruti semua apa yang diminta oleh anaknya, jika tidak maka anaknya akan sakit-sakitan. Rangkaian acara ini pertama, anak gimbal akan dimandikan dengan air dari 7 sumber, kemudian diarak, dan dilempari beras kuning dan uang koin, baru dipotong rambut gimbalnya oleh pemuka adat. Terakhir, potongan rambutnya akan dibuang ke Telaga Warna.